Dongeng Tentang Bagaimana Manusia Ada di Bumi

10 05 2008

Pada mulanya tidak ada apapun selain bulan dan matahari. Dan bulan ingin keluar pada siang hari, tapi ada sesuatu yang jauh lebih terang yang tampaknya mengisi jam-jam pada siang hari. Bulan menjadi lapar, lalu makin kurus dan makin kurus, sampai ia menjadi sepotong, dan ujung-ujung bulan jadi setajam pisau. Tanpa sengaja bulan menusuk malam hingga menimbulkan lubang dan memuntahkan jutaan bintang, seperti air mancur dari mata air.

Karena ketakutan, bulan berusaha menelan semua bintang itu. kadang-kadang usahanya berhasil karena bulan menjadi lebih gemuk dan bulat. Tapi seringkali usahanya tidak berhasil karena begitu banyak bintang yang ada. Bintang terus berhamburan hingga membuat langit begitu terang dan matahari cemburu. Matahari mengundang bintang-bintang itu ke sisi dunianya yang selalu terang. Tapi matahari tidak memberitahu mereka bahwa pada siang hari bintang takkan terlihat. Jadi bintang-bintang yang bodoh itu melompat dari langit ketanah, dan mereka membeku akibat kebodohan mereka sendiri

Bulan melalukan usaha terbaiknya. Dia mengukir setiap bekuan-bekuan bintang yang menyedihkan itu menjadi lelaku atau perempuan. Bulan menghabiskan sepanjang hidupnya berjaga-jaga agar bintang-bintang lain tidak jatuh. Dia menghabiskan sepanjang hidupnya untuk bertahan pada serpihan-serpihan yang tersisa





Terkadang…

10 05 2008

Terkadang orang yang terlalu bahagia melihat apa yang dialaminya seperti mimpi. Terkadang waktu berjalan sedemikian cepatnya tanpa memberi kita kesempatan untuk berpikir sebenarnya apa yang sedang terjadi pada diri kita sendiri.





DI..DIALOG KAN?

26 04 2008

Saya : sini kamu, saya butuh kamu

Aku : apa yang kamu mau?

Saya : keluarkan saya dari situasi ini

Aku : aku ga pernah diperintah orang, jadi kenapa aku harus mematuhi kamu?

Saya : karena saya berarti kamu

Aku : so? Bukan brarti aku akan mematuhi kamu.

Saya : kalau begitu kamu akan dalam kesulitan

Aku : tidak akan jika aku bisa menghindarinya

Saya : how?

Aku : kamu akan tau, hanya jangan menjadi sadar saja

Saya : maksud kamu?

Aku : jangan pernah memerintah aku. Cukup berdiam diri sajalah, dan lihat

Saya : kenapa begitu?

Aku : karena kamu terlalu waras! Berisik! Sekarang diamlah, coba lah untuk menjadi tak sadar





HUNTER

19 04 2008

I’ll hunt it down!

Ia ga cukup stabil, bahkan tidak sedikitpun mendekati kestabilan.

Ia akan menjadi target yang mudah.

Dalam hitungan detik, ia akan ada dalam jarak tembakku

Lihat, aku sudah mengunci nya sebagai sasaran tembakku.

Kamu lihat? Ia ga akan bisa keluar dari area tembakku begitu ia sudah didalamnya

Dan dengan sekali sentuh tombolku, ia akan hancur berantakan

Perhatikan! Aku akan menembaknya jatuh sekarang

…….

APA YANG TERJADI?!!!!

Kenapa bisa ia meloloskan diri?

Aku yakin sudah menembaknya jatuh

Sialan! Ia masih terbang dan malah bermain2 didepanku

Brengsek! Ia mempermainkanku

Dan sekarang ia mengejekku!

(a whisper) akuin saja, kau kalah….





Catatan 040408 10:55

5 04 2008

Tiba2 terlintas dibenak saya. Emang butuh minimal 2 orang cowo buat seorang cewe (ngeliat contoh2 yang ada). 1 yang mungkin disebut pacar dan 1 lagi disebut “sahabat”. Kenapa? Karena sangat amat jarang sekali semua yang dibutuhin cewe dari seorang pacar ada pada 1 cowo. Jadi butuh cowo lain buat ngelengkapin kekurangan cowo yang lain. Jadi dengan asumsi kepribadian 2 cowo ini berbeda, saya pikir wajar ajah, tapi lain soal kalo kepribadian mereka mirip, sudah jelas itu cewe selingkuh! Huhuhu… aneh juga bisa tiba2 terpikir soal beginian, mungkin karena si anak kecil yang ga mau dianggap anak kecil dan malah nganggap saya yang anak kecil. Hhhhhh…. Sepertinya saya ga akan pernah dewasa.





OBROLAN MAKAN SIANG

29 03 2008

Kalimat pembuka makan siang kami dibuka dengan sebuah pertanyaan “gimana ngilangin rasa kangen?” lalu diserobot dengan pernyataan “hey, aku juga mau nanya yang sama, mungkin agak berbeda. Gimana supaya ga ngerasa kangen?”. Langsung terpikir di otak saya “Ini bakal jadi makan siang yang lama padahal bukan hari Jumat” (note: ini hari Rabu tanggal 26 Maret). Dan setelah berputar-putar tentang masalah RINDU ini, kami tetap ga nemu jawabannya (yeah konyol banget). Tapi walaupun begitu ada beberapa jawaban yang bisa dicoba karena result may vary (hahaha)

  1. ajakin ketemu. kalo jauh, telpon bilang kangen.

ada yang ngejawab, “ih gengsi.” Yang di cemooh dengan “kalo ga mau sakit jiwa telan dulu gengsi kamu”. Lalu ada pertanyaan lanjutan, “gimana kalo yang dikangenin bukan pacar? Atau pacar lagi marah? Jadi takut ditolak kalo telpon ato diajakin ketemuan?” Ga ada jawaban dari pertanyaan ini cuma ada komen pasrah “yah resiko”.

  1. kumpulin semua barang ato hal2 yang ngingetin tentang yang dikangenin buat

jadi obat (“saya suka tidur pake sweater n dengerin lagu fave nya”)

ada komen, “itu cuma sementara, tetep aja ngerasa kangen”. Dan diikuti anggukan para peserta makan siang (sepertinya banyak yg nyoba pake cara ini)

  1. obrolin terus menerus tentang orang yang dikangenin (ok, ini jawaban saya). Ntar juga lama2 bosan, ilang deh kangennya.

Disambut dengan keheningan sesaat (peserta pada mandang saya dengan tatapan aneh) lalu kecaman yang meriah menerpa saya. “emangnya sapa yang mo dengerin terus menerus kamu ngomongin pacar kamu?”. “bukannya diomongin malah nambah kangennya?”. “saya ga mau ah ngomongin tentang saya dan cowo saya ama orang lain. Itu kan privasi”. “kesyan cowo kamu dunk kegigit2 lidahnya di omongin terus”. Dan sebagainya…

  1. sholat, deketin diri ke pencipta kita supaya dikasih ketenangan jiwa.

“tetep ngerasa kangen” dan dijawab “itu brarti sholat kamu ga khusyuk” dan perdebatan lagi seputar mendekatkan diri ke sang pencipta. Dan intinya, karena kami bukan tipe yang religius banget, jawaban ini ga efektif juga

5. biarin aja, ntar pasti berlalu…

Cuma saya yang mencemooh (secaranya sakit hati karena ide saya habis2an dicemooh), “yey kita ngobrol ini tadi kan supaya kita tau caranya handle rasa kangen. Bukannya ngebiarin gitu aja. itu siy dari dulu juga tau”.

Dan obrolan berakhir karena saya ngeloyor pergi sementara yang lain juga ga ngemukain ide lain. Duduk depan komputer saya ngetik ini dan baru mikir… bukannya kangen itu bumbu? Dan saya cengar cengir sendiri.

Jadi inget, dari awal minggu kemaren, saya banyak berdiskusi tentang masalah cowo dan cewe. Hanya karena pendapat beberapa orang yang bilang “Kamu kan separuh cewe separuh cowo”, jadi banyak yang ngajakin diskusi tentang permasalahan makhluk Mars dan Venus ini (btw kalo cewe dari Venus lalu cowo dari Mars, lalu orang yang setengah2 gitu dari mana ya? Kalo nurut saya siy Bumi, karena hey saya emang orang Bumi :p ). Dan saya yang di cap makhluk setengah, cuma berusaha ngeliat dari masing2 perspektif aja walo sebenernya saya ga ngerti sama sekali, cuma ambil jalan tengah, saya ga mengklasifikasikan cewe or cowo. Huhuhuh…

Ask the simplest by sms

14:53 gmn cr nya ngilangin kangen? Ato mgkn, ada ga caraspy ga kangen?

16:31 ketemuan,nelp.Cr laen? Ga ada kyknya :D Emang ada yg bs mencegah ujan turun?

See, emang no answer siy buat pertanyaan tadi.





Draft Ajah

22 03 2008

L : Cewe emang susah di ngerti
D : Hah. Bwahahaha…
D memalingkan muka dari komik yang di baca nya ke arah suara yang terdengar disebelahnya. D mengerjabkan mata karena terkejut mendengar komentar yg baru saja diucapkan sosok tinggi tampan disampingnya. Lalu spontan D tertawa terbahak-bahak dan berguling dari posisi telungkup ditempat tidurnya sambil memegangi perut.
L : apa lu!
D : ngga..
D langsung berusaha menahan tawa nya yang lepas ketika mendengar nada tersinggung dalam suara cowok didepannya. Lalu cepat-cepat ia mengambil posisi duduk dan memandang L yang sudah mengambil posisi duduk di kursi disamping tempat tidurnya
D : kenapa emang L?
L : mami tuh.
D : owh
D manggut-manggut sok ngerti. L boleh jadi cowo cool, tampan, tajir dan sebagainya yang membuatnya nyaris sempurna dan banyak di kejar-kejar cewe. Karena itu ia jadi banyak mengenal sifat berbagai macam cewe. Dan jika terlontar kalimat dia ga bisa ngerti cewe, itu sesuatu yang mengejutkan dan bagi D jadi lucu karena selama ini L ga pernah pusing bagaimana cara menangani seorang cewe. L terdengar kebingungan dari caranya menghela nafas.
D : iya ya, mami lu kan cewe juga
Sebagai jawaban komen D yang asal, L memegang wajah D dan dengan kedua tangannya mencubit kedua pipi D dengan kesal.
L : lu tu ya… emang kaga ada komen laen. Semua orang juga tau ibu itu cewe
D: iya iya ampun….
L baru melepas cubitannya dipipi D ketika D meringis minta ampun pada nya.
L : mode ngawur lu lagi on ya
Itu sebuah pernyataan bukan pertanyaan sehingga D menjawabnya hanya dengan cengiran lebar diwajahnya. L emang punya beberapa istilah untuk D, dan mode ngawur tadi istilah L untuk keadaan D yang sedang tidak ingin berpikir.
L : gih ubah mode lu!
L memegang kedua sisi wajah D dan menghadapkannya ke wajahnya sendiri. Untuk beberapa saat wajah mereka berhadap-hadapan sangat dekat, lalu akhirnya L melepaskan tangannya dan lagi-lagi menghela nafas panjang.
L : lu kenapa?
Tiba-tiba L bertanya balik pada D. Dan lagi-lagi karena dia begitu mengenal D, ia tahu D sendiri sedang bermasalah karena mode ngawur biasanya terpasang ketika D merasa lelah berpikir karena masalah-masalahnya sendiri.
D : biasalah. Status quo
L : mo cerita?
D : kaga. Dah cape gw. Lu aja yg cerita
D menjawabnya sambil meringis.
L : halah, percuma ngomong ma lu kalo lagi mood ngawur begini. Bikin gw tambah bete ntar.
Dan untuk ketiga kalinya L menghela nafas panjang, menyadari, ia takkan bisa membuat D mengubah moodnya walau apapun yang terjadi hingga D merasa baikan dengan sendirinya.
D : Keluar aja yuk. Gw pengen makan es krim
L sekarang beralih memandang D dengan pandangan bertanya
L : parah ya? Ampe lu jadi pengen makan es krim mendung-mendung gini
D : kaga, gw emang pengen. Kan mending lu anterin gw kemana gitu, dapat pahala, daripada lu narik napas bolak balik ngabisin oksigen di kamar gw.
Kali ini komen ngawur D bikin L tersenyum, walo senyumnya terlihat sedih
L : gw berantem ma mami D.
D melongo dengan sukses. Dan akan terus melongo jika L tidak mengatupkan mulut D dengan memegang dagu dan bagian atas kepala D. Baru-baru ini dia bercerita ibu nya menginginkan seorang cucu, yang berarti ia diharuskan nikah. Mungkin orang lain akan berpikir hal itu akan mudah untuk seseorang seperti L, tapi jika orang itu mengenal L lebih jauh, ia akan tau bahwa itu malah lebih sulit bagi L, karena walau dikejar-kejar ratusan cewe, ga pernah sekalipun L pacaran dengan salah satu cewe-cewe itu. L tahu cara menangani cewe, dengan 2-3 kali kencan PDKT saja dia langsung kehilangan minatnya ketika mengenali sifat cewe itu. Dan L juga hebat dalam menangani cewe-cewe itu, karena dari yang naksir biasa ampe yang tergila-gila padanya, malah jadi berteman baik dengannya, dan bukannya memusuhinya karena merasa ditolak. Dan sekarang mereka berdua sama-sama diam. D memandangi L lekat-lekat, ia sedang menatap 1 titik di belakang D tanpa focus. Melihatnya yang berkelakuan aneh, D hanya mengerjabkan mata dengan cepat berkali-kali.
L : udah 4 hari ini. Habis gw ga suka dia nyuruh gw blind date ma anak-anak temennya, anak-anak temen mami kan sejenis.
Dan ia terdiam lagi. L sangat dekat dengan ibunya apalagi sejak kematian ayahnya, jadi jika mereka bertengkar itu merupakan hal yang luar biasa.
D : masih soal pernikahan? Mami lu ternyata serius banget ya?
L mengangguk pelan dan tiba-tiba berdiri dari duduknya.
L : ya udah ayo keluar.
D : Hm…kalo gw jadi mami lu, apa ya yang ngebuat gw maksa lu cepet-cepet kawin?
L menghentikan langkahnya menuju pintu kamar.
D : gw cuma punya anak satu, sibuk lagi ama kerjaannya, sejak gw pensiun gw berasa rumah sepi banget kalo jam-jam dia kerja. Gw mati gaya. Gw pengen ngobrol ga cuma ama pembantu. Kalo saja anak gw punya istri, pasti ga bakal sepi lagi. Apalagi kalo terus anak gw punya anak, bisa tambah rame rumah gw.
L sudah kembali duduk di kursinya tadi dan sekarang memandangi D lekat-lekat
L : maksud lu, mami kesepian.
D : mungkin. Gw siy kalo jadi mami lu bakal ngerasa gitu.
L : tapi mami keliatan sibuk kok. Arisan, berkebun, ato kegiatan lain
D : emang arisan or shopping or hanging out ma temennya bakal tiap hari? Emang berkebun ngabisin waktu seharian penuh? Kalo gw jadi mami lu yang hiperaktif begitu, gw bakal bosen banget. Mana mami lu kan kaga suka ngegosip. Ikut arisan aja kata lu cuma karena ga enak ama ibu-ibu komplek. Bukannya ngehibur jadinya malah jadi siksaan buat mami lu
L terpekur menatap lantai kamar dan D cuma diam memandanginya
L : lalu kudu gimana dunk D, lu tau yang mami minta ga gampang buat gw.
D : kompromi dulu. Udah pernah ngomong kalo ga segampang itu lu cari istri?
L : udah. Mami malah bilang segitu banyak cewe yang nyari gw masa kaga ada satu pun yang bisa gw jadiin calon.
D : calon? Mami lu bilang calon ya?
L : iya.
D : calon brarti ga harus istri. Lu terlalu jauh mikirnya. lu pernah ngenalin salah satu cewe itu ke mami lu ga?
L : secara resmi. Kaga.
D : kenapa kaga?
L : orang bukan apa-apa gw. Baru juga di PDKT-in. Mama juga tau karena ga sengaja liat gw jalan ma mereka, atau pas telpon ke rumah, mami yang angkat telpon mereka.
D : satu pun cewe yang lu PDKT-in belum pernah lu jadiin pacar ya.
L : pernah siy.
D : trus mami lu pernah tau ga lu punya pacar?
L : kek nya ngga. Mami kliatannya ga peduli gitu.
D langsung melemparnya dengan boneka yang dari tadi dipeluknya.
D : ga peduli belum tentu ga merhatiin. Ga heran kalo mami lu jadi was-was gitu. Lu ga pernah keliatan punya pacar, jadi mami lu mikir lu ga bakal ngasi dia cucu dalam waktu 2-3 tahun ini.
L memandang D seperti menguji teori D
D : yeah gw tau, ga ada yang cukup bagus or tahan lama jadi pacar lu buat lu kenalin ke mami lu.
L : point lu?
D : baikan ama mami lu, coba bilang kalo lu sebenernya ada niat mau nikah, secepatnya. Soal blind date, ikutin dulu 1-2 kali. Itung-itung lu trial. Toh ama cewe-cewe yang lu kenal dulu juga pada dasarnya ga kenal.
L : gw ga mau kompromi soal blind date. Lu kan tau sendiri gw benci sesuatu yang diatur, dibuat-buat
D : ok ok. Tapi lu harus nunjukin ke mami lu kalo ucapan lu soal cari istri emang serius. Dan blind date itu mungkin bisa ngasi sinyal kalo lu serius
L : next idea
D menghela nafas mendengar kekeras kepalaan L
D : lu lagi dating seseorang ga sekarang
L : ngga..
D : oops wrong question. Inceran baru lu ada niat ditembak ga?
L : dandan maniac.
D langsung ngakak mendengar komennya
D : ok gw asumsi-in itu brarti ga bakal ditembak. Ada inceran cadangan?
L : kaga. Belum ada. Yang ngasi sinyal sekarang ini old fashion semua.
D : arrgghh…
D berteriak karena kesal sepertinya L sekarang yang ga serius. Sedangkan L malah ketawa dan dengan kesal D mendorong L dari duduknya.
L : iya. Iya. gw dah dapat pencerahan kok
D : apa coba?
L : gw dalam waktu dekat kudu punya pacar supaya bisa gw kenalin ke mami, jadi mami yakin gw serius ma ucapan gw soal mo nikah secepatnya.
D menghembus nafas lega dan langsung menghempaskan tubuhnya kembali tiduran dikasurnya.
L : heh lagak lu kek orang habis marathon aja.
D : emang. Secaranya gw habis meras otak gw sampe kering gini.
L : gw pikir mode lu ga bisa secepet ini berubahnya
D : iya juga ya. Curiga niy keknya bakal lama pulihnya dari sebelum-sebelumnya. Besok gw ujian tauk!
L : halah. Gw yakin otak lu ga sepayah itu.
D jadi cemberut mendengar komentar L.
L : idih pundung, ilang loh pahala bantu gw.
D : bodo! Gw emang ga mau bantu kok. Gw cuma mo es krim
L langsung nyengir lebar lalu menarik D bangun dari tidurnya.
L : lu boleh makan es krim sebanyak yang lu mau sekarang.
D langsung berteriak kegirangan dan buru-buru menyeret L yg masih memegangnya keluar kamar.
L : woy woy, apa lu ga lupa sesuatu?
L menghentikan seretan D padanya dengan melawan tarikan D dan berteriak pada D.
D : apa?
L : lu mo keluar pake baby doll gitu?
D memandang baju yg dipakainya.
D : biar ajah. Males ganti
L : lu udah mandi belum siy?
D : belum, lagi males.
L : cuci muka?
D : ngga. Lagi males ngapa-ngapain. Apaan siy lu. Malu ya kluar ma gw kek gini
L : kaga. Aneh aja. Kan lu miss modis.
D : hah. Masa iya?
L : ga pernah gw liat lu pake sesuatu yg ga pantes or keluar tanpa perlindungan dari UV.
D : ah itu kan buat gaya. Lagian emang sekarang gw pake baby doll ga pantes ya? Kan lucu.
L : pantes siy. Tapi yang ga pantes itu ama tempat yang mo kita tuju
D : masa?
L geleng-geleng kepala lalu mengacak rambut D
L : keknya emang mode ngawur lu parah banget gara-gara dapet pergantian mode terlalu cepet.
Dengan cuek D berjalan keluar kamar kostnya menuju mobil L dan L dengan pasrah mengikutinya.

Hal pertama yang dilihat D ketika membuka mata adalah jam weker dimeja belajarnya. Jarum jamnya menunjukkan angka jam 2 siang. Matanya terasa pedih sekali karena ia begadang nonton serial drama korea favoritenya. D berguling kearah kirinya dan menemukan tatapannya terbentur pada sepasang mata lain. Dan D langsung terpekik kaget.
L : owh putri pemalas sudah bangun.
D : gimana lu bisa masuk?
L : kaga dikunci. Lu tu ye, bahaya tauk!
D mengabaikan sentilan L didahi nya.
D : dah lama? Kok ga bangunin gw?
L : lumayan. Gw tau lu begadang nonton drama cengeng itu lagi
D : jangan mulai ngehina hobi gw d
L : tidur jam berapa lu semalam
D : jam 6
L : ibu kost lu bakal teriak-teriak bulan depan gitu liat tagihan listriknya
D : hah
Sekarang D menolehkan lagi wajahnya kearah L.
D : jangan bilang gw ga matiin tv
L : iye kaga lu matiin ampe gw datang jam 12-an tadi
D : mampus. nah lu kenapa datang hari gini. Ga kerja?
L : ga mood kerja.
D: deadline?
L: dah kelar
D : owh pantesan lu nyante. Lalu mo ngapain kesini? Mo ngajakin anak kost terlantar ini makan siang?
L : boleh. Asal kasih gw ide.
D : hah. Idih pake balas jasa gitu.
L : kaga ada yg gratis sekarang.
D : ah ya udah. Gw mo tidur lagi.
L : lu pikir bisa tidur lagi dengan tenang?
L emang ngomong dengan nada santai tapi D tau dia sedang mengancamnya. L tidak akan membiarkan D tidur lagi. Jadi dengan malas-malasan D bangun dari tidurnya.
L : anak pintar..
D : ide buat apa?
L : cuci muka dulu sana. Gw butuh ide bagus, jadi gw kudu yakin lu dah bener-bener sadar.
D : udah d bilang aja. Dah bangun bener ini kok
Sekarang L berpindah posisi, dari samping D bergerak ke depan nya, dan dengan perlahan-lahan seperti takut D akan meledak berkata..
L : gw dah ngomong ma mami tentang niat gw mo nikah
D : lalu?
L : gw bilang gw udah ada calon
D : terus?
L : seperti dugaan lu, mami ga yakin ama niat gw
D : ok, terus?
L : gw bilang gw bakal kenalin ke mami kalo udah waktunya
D : bagus. Tapi kenapa lu harus ngomongnya kek gini ke gw siy
L : karena…
D : ah gw tau pasti ada yang ga beres
L : ga juga.
D : berarti semua berjalan lancar
L : iya
D : dan lu butuh ide gw buat…?
Untuk beberapa saat L diam sementara D mengawasinya dengan seksama.
L : lu kan tau gw dah ngomong ma mami 2 bulan lalu soal pacar ini.
D : tapi?
L : sampe sekarang gw belum ngenalin pacar gw
D : o’ow
L : dan sejak minggu kemaren, tiap hari mami nanya kapan gw mo ngenalin calon gw.
D : yak stop. Gw tau maksud lu. Gw ga punya ide. Gw mo mandi.
Lalu dengan cepat D turun dari tempat tidurnya, menyambar handuk dan bergegas kekamar mandi. L hanya menghela nafasnya yang terasa berat lalu berjalan ke arah pintu kamar mandi dan mengetuknya pelan.
L : gw balik kekantor dulu yak
Belum sempat D menjawab, L sudah meninggalkan kamar.

D sedang mengerjakan tugas kuliah nya ketika terdengar ketukan di pintu kamar nya. Bergegas D berjalan untuk membuka pintu. Begitu pintu terbuka, D mendapati L dengan wajah yang terlihat sangat lelah. Sudah sebulan lebih D tak melihatnya sejak D menolak membantunya.
D : ew dari mana lu? Berantakan banget. Dikejar deadline?
L : another deadline.
Sambil menjawab L menuju lemari es untuk mencari minuman lalu duduk diatas tempat tidur. Sementara D kembali duduk didepan meja nya sambil memandangi L dengan pandangan bertanya. Tetapi sepertinya L sibuk dengan pikirannya sendiri dan ia terlihat tidak berniat akan bercerita. Jadi D kembali menghadapi tugas nya.
L : tugas?
D : iya
D menjawab L dengan memunggunginya sambil mengerjakan tugasnya.
L: tugas apa?
D : ekonometrika.
L : kapan dikumpulin.
D : minggu depan.
L : tumben.
D : tumben apa?
L : ga nunda.
D : lagi rajin gw.
L : hari ini ada kuliah?
D : ada jam 1 ntar.
L : mata kuliah apa?
Sekarang D membalikkan badannya kearah L.
D : manajemen
L : cuma 1 aja kuliahnya?
D hampir melontarkan pertanyaan apa yg salah dengan L, tapi D tahu percuma D bertanya karena kalo L sedang ga ingin cerita, ia ga akan menjawab pertanyaan dari siapa pun.
D : gw jadi merinding lu nanya-nanya kuliah gw.
L hanya tersenyum kecil mendengar komentar D.
L : udah makan?
D : udah. Owh gw tau!
L : tau apa?
D : kita sedang maen detektif-detektifan.
Lagi-lagi L cuma tersenyum kecil.
Menolak dorongan untuk bertanya ada apa dengannya, D malah membalikkan badan lagi ke meja nya. Tapi sepertinya D ga bisa fokus lagi ke tugas yang harus dikerjakannya karena alih-alih mengerjakan tugasnya ia malah menghidupkan laptop nya karena lagi-lagi L diam.
L : Duduk sini D.
L sepertinya sudah bangun dari lamunannya, ia menepuk kasur disebelahnya. Tanpa membalikkan badan D menjawabnya.
D : ngapain?
L : just sit here.
D : bentar, donlotan gw ampir slese.
L : Davina Desria Princessa!
D terkejut mendengar L memanggil nama lengkapnya dengan tegas. Ia hanya akan memanggil D dengan nama lengkap dan tegas jika dia benar-benar ingin diperhatikan. Dan tiba-tiba dengan langkah lebar D mendekati sisi tempat tidur yang diduduki L.
D : Lu tu ye. Kemaren terakhir lu kesini lu pergi gitu aja, gw pikir lu marah .Sebulan lu kaga ada kabar, lalu sekarang lu datang kesini dengan tampang berantakan. Gw tau lu sedang ada masalah dan gw jg tau dari tampang lu kalo lu sedang ga pengen ditanya-tanya. Jangan tunjukin lu sedang bermasalah kalo lu ga pengen ngebahas. Itu bikin gw ngerasa bersalah ga bisa ngebantu lu. Gara-gara lu gw kehilangan mood belajar gw. Sekarang lu ngebentak-bentak gw setelah sepertinya lu kaga mau diganggu gitu!
L memandang D tanpa berekspresi, tapi terlihat dimatanya sepertinya ia terkejut. L menarik tangan D yang sedang berkacak pinggang didepannya untuk duduk ditempat tidur.
Untuk beberapa saat L masih diam. Dan D juga terdiam setelah ledakan emosi nya yang D sendiri pun juga tak menyangka kenapa dirinya bisa semarah itu. Dan sekarang D mejadi serba salah karena marah-marah sendiri.
L : cewe aneh. Kalo mo nanya ya nanya aja, bukannya lalu marah-marah sendiri gitu.
D : emang bakal lu jawab, apa? kalo gw nanya?
L : mungkin.
D : nah karena itu gw ga nanya. Lu ga jelas gitu. Gw ga suka dibawelin, makanya gw ga mau bawelin orang lain.
L akhirnya tersenyum lemah.
L : gw cape D.
D : lalu, lu cape jadi salah gw?
L : udah dong sewotnya.
Akhirnya D cuma diam lagi. Ngeliat D diam, L yang tadi duduk disebelahnya beranjak kedepannya.
L : gw masih butuh ide lu. Please…
D : jenis ide yang sama ama yang terakhir lu minta kemarin?
L : gw ga bisa punya pacar D. Gw bosen ama mereka dan ngebayangin gw yang sudah bosan lalu maksain mereka buat dikenalin ke mami ga bakal bikin mami yakin.
D : kan belum lu coba.
L : coba lu bayangin, gw sendiri ga yakin ma cewe itu, gimana gw mo yakinin mami nanti
D : sudah berapa?
L : 4 orang
D : satu pun ga ada yang lumayan ?
L : ga. Gw ga bisa terima kekurangan mereka. Gw bosen bersama mereka
D : cari lagi. Yang ngebuat lu ngerasa nyaman. Jadi bisa ngebuat lu lebih gampang ngeyakinin mami lu.
L : udah ga ada waktu lagi D. Semalam mami ngambek. Pake acara ga mau makan sampe dikenalin ma calon yg gw bilang ada.
Dan D langsung terbatuk-batuk tersedak ludah nya sendiri dan cepat-cepat L mengambilkan minum untuknya.
D : buset. Mami lu niat amat ya.
L : so any idea?
D : bingung juga gw. But btw, jam 10 gini lu dah nongol disini, emangnya kaga kerja lu?
L : gw semalam ga pulang kerumah.
D : hah. Ngapain?
L : jalan-jalan
D : bukan. Kenapa lu ga pulang?
L : gw perlu fresh air.
D : lalu mami lu gimana?
L : itu dia. gw dah habis akal. Ga nyangka mami gw bisa gini. Gw jadi takut pulang ngeliat mami.
Dan lagi-lagi mereka diam mematung sibuk dengan pikiran masing-masing.
D : gw ada ide sementara. Tapi cuma buat ngulur waktu aja, jadi lu bisa manfaatin waktu itu buat nyari cewe lain.
L : maksud lu?
D : mami lu kudu makan hari ini. Jadi mari kita ciptakan calon menantu yang “tak bisa datang” untuk.. yah mari kita bilang sebulan, karena suatu urusan. Cukup ga sebulan buat cari gebetan baru?
L : gw ga ngerti
D : halah. Lu kecapekan. Pulang dulu aja d. Ntar gw telpon lu
L : ga. Ga ada waktu buat istirahat. Mami pasti serius ama ancamannya.
D : lu bikin cerita kalo cewe lu ga bisa datang kerumah lu karena dia pergi keluar kota, keluar negeri ato kemana d yang jauh.
L : mami ga bakal percaya. Gw dah pernah beralasan sejenis itu.
D : nah kali ini tambahin dengan suara.
L : hah. Apaan siy, gw masih tetep ga ngerti.
D menimpuk nya dengan bantal disebelahnya yang langsung ditangkap L. Lalu malah langsung tidur di atasnya.
D : punya temen cewe diluar kota?
L : banyak
D : bagus. Cari yang bisa dipercaya. Lalu suruh dia telpon mami lu. Pura-pura jadi calon menantu yg kuatir mendengar calon mertuanya mogok makan karena ga bisa ke…
L : no way!
D : how come?
L : temen cewe gw ga ada yang bisa dipercaya buat itu
D : oh maksud lu cewe kek gw ga bisa dipercaya?
L terdiam mendengar sindiran D, lalu seperti mendapat ide briliant ia menjentikkan jari.
L : Hey kenapa ga lu aja yang telpon mami?
Dan D langsung terpaku mendengar usulnya
D : gila aja lu, gw kan ga diluar kota
L : kan cuma ceritanya. Lu bisa telpon pake hp. Ga keliatan lu lagi ada dimana.
D : please d ya… gw ga bakal bisa.
L : kita ga bakal tau kan kalo ga dicoba.
D : ogah.
L : please D.. demi mami gw. Ini dah ampir jam makan siang. Mami ga pernah maen-maen ama ancamannya. Mami dah ngelewatin sarapannya. Kalo gw masih kudu nyari lalu ngejelasin masalah gw ke temen cewe yang lain juga bakal butuh waktu.
D baru sekarang merasakan apa arti istilah senjata makan tuan, padahal D ga berniat masuk dalam lingkaran masalah L ama maminya.
D : gw ga bisa bohong..
L : bisa aja. Mami ga liat muka lu ini. Jadi jangan takut bakal ketauan
D : gw kudu ngomong apa?
L : ya yang lu bilang tadi.
D : gw bilang apa emangnya tadi?
L yang tadinya sedang tiduran, langsung bangun dan nyubit kedua pipi D dengan gemas.
L : langsung pura-pura bego gitu dia. Kalo susah kita tulis skenarionya
Lalu L buru-buru ngambil pena dan kertas di meja. D cuma memperhatikan apa yang dilakukannya dan tak beberapa lama kemudian L menyodorkan hp dan kertas yang berisi poin-poin yang harus dikatakan ke mami nya.
L : ready? Gw dial-in nomor rumah gw ya…
D : bentar gw narik nafas dulu
L malah mengacak-ngacak rambutnya.
D : ok. Tapi lu kudu janji dulu kalo keterlibatan gw cukup segini aja.
L : udah udah. Ini dah nyambung. Gw barusan cek pulsa lu, masih banyak. Jangan takut pulsa lu habis ntar gw ganti 10 kali lipat kalo lu bikin mami gw mau makan.
Belum sempat D membantah L, terdengar suara di ujung telpon.
Mami : halo
D : selamat siang tante..
Mami : siang. Siapa ya ini?
D terdiam dan dengan panik memandang L yang ada didepannya. Tanpa suara D bertanya sama L siapa nama yang bisa diakuin sebagai nama pacar L. Dan L berbisik tanpa suara supaya menyebutkan nama D sendiri
D : ini dede tante. Temennya L
D menolak perintah L untuk menyebut namanya sendiri dan memilih nama umum yang bisa saja diartikan sebagai nama panggilan.
Mami : oh. Mo cari L ya? L kan lagi di kantornya
D : ngga.. saya nyari tante kok.
Mami : wah ada perlu apa ya.
D : maaf tiba-tiba telpon ke rumah. Habis saya kuatir soalnya barusan L telpon, bilang tante lagi marah ama L.
Mami : oh. Kamu toh.
D memegang lengan L dan mencengkramnya dengan keras karena nada suara mami L terdengar dingin. D melototkan matanya pada L, sementara L yang ga ikut dengar suara maminya cuma mengernyit karena D mecengkram lengan dengan mata melotot.
D : maaf tante. Seharusnya saya telpon tante dari kemaren-kemaren. Cuma L bilang katanya ga usah. Saya bukannya ga mau ketemu tante. Saya malah sangat ingin ketemu tante. Cuma karena sangat sibuk, saya ga bisa. Dan takutnya sekarang pun jika saya sangat ingin ketemu tante, saya juga ga bisa, saya sedang tugas ke luar kota. Baru tadi dia ngasi tau kalo tante ma dia berantem, dan walau dia masih bilang ga usah, saya pikir saya sangat ga sopan kalo ga minta maaf langsung. Saya bener-bener minta maaf tante. Saya ga tau kalo bakal kek gini jadinya
Mami : Oh gitu ya. Tante bukannya marah ke kamu siy. Cuma tante pikir si L sengaja mo bohongin tante. Habis kerjaannya main mulu, ga pernah serius.
D : salah saya juga siy tante. Akhir-akhir ini emang saya sibuk, sering keluar kota.
Mami : ya kalo emang karena urusan kantor, tante bisa apa. Namanya juga tugas. Cuma ya itu, si L cuma bilang ntar ntar mulu.
D mengendurkan cengkramannya dilengan L, lalu tanpa suara menghela nafas panjang. Sementara L terus memperhatikan D sekaligus menyimak jawaban-jawaban D pada maminya
D : maafin saya tante. Saya pasti kerumah tante begitu tugas saya selesai.
Mami : bener ya, tante tunggu.
D : pasti tante, tapi ngomong-ngomong tante dah makan?
Mami : belum, masih kesel ma si L nih. Semalam keliatannya dia bahkan ga pulang.
D : ga pulang?!
D pura-pura terkejut. Padahal ia sedang memutar matanya ya sedang menatap L.
Mami : iya. tante ancam dia pake mogok makan. Padahal kalo dia kasih nomor telpon kamu aja, ga perlu pake acara ancem-anceman gini.
D : kek nya L emang perlu di kasih pelajaran ya tante, bahkan ampe tante mogok makan pun dia ga bolehin saya telpon tante.
Kali ini D menjulurkan lidah nya ke arah L karena merasa berhasil menghasut mama L supaya ngerjain dia terus, dan langsung mendapat hadiah jitakan pelan di kepalanya.
Mami : iya, tante masih mo mogok makan ampe setidaknya dia kasih nomor telpon kamu.
Kali ini D yang terkejut mendengar kemauan mami L. Sementara L menyodorkan sebuah kertas bertuliskan “awas lu ye. tapi mami dah mau makan kan?”
D : wah tante harus makan. Buat apa nomor telpon dede? Kalo tante mo ngobrol ama dede, biar dede aja yang telpon tante.
Mami : Tante ga mau kalah ama L. emangnya dia aja yang bisa ngerjain orang. Ga keberatan kan tante nelpon kamu?
Wajah D lagi-lagi terlihat panik, sementara L memandanginya dengan bingung. D panik karena jika mami L mendapatkan nomornya, hidupnya ga akan tenang, dan D sama sekali ga bisa begitu saja keluar dari masalah L dan maminya.
D : ya ngga dong tante saya bakal seneng banget.
Sekarang L tertawa lebar karena dari jawaban D ia menyimpulkan mami nya masih ingin ngobrol ma D yang ga tak tahu sampai kapan bisa bertahan berbohong .
Mami : nah gitu dong. Tante kan ga harus nunggu telpon kamu kalo mo ngobrol
Butuh usaha keras untuk D agar terdengar antusias.
D : iya, tapi tante ga perlu mogok makan kan? Saya bakal sangat merasa bersalah kalo tante ga makan
Mami : tenang aja, tante kuat kok
D : ayolah, tante makan aja. Kalo cuma buat ngerjain L, tante pura-pura aja masih mogok makan.
Mami : ga apa apa kok, kalo tante bener ga makan akan lebih meyakinkan. Itung-itung puasa.
Dalam hati D membatin, ibu ma anak sama aja niy.
D : saya beneran ga mau dateng loh kalo tante masih mogok makan.
Mami : lho kok gitu.
D : ya kan percuma dong saya datang kalo ntar ketemu tante lagi sakit
Mami : kamu ini… ya udah tante ngalah d. Tapi bener ya kamu harus dateng
D : pasti. Begitu saya pulang, tante orang yang pertama saya kabarin asal sekarang tante makan
Mami : iya setelah kamu telpon ini tante mo makan.
L menyodorkan kertas lagi kehadapan D. Diatasnya tertulis kalo D harus bertanya bibi Mirna, pembantu rumahnya, masak apa hari ini dan D harus mendengar mami bener-bener makan, karena biasanya mami keras kepala.
D : bi mirna masak apa sekarang tante?
Mami : masak ayam goreng kecap sepertinya
D : minta diambilin sekarang aja tante, dede sepertinya kudu kerja lagi.
Mami : loh tante masih mo ngobrol ma kamu
D : ntar tante ga makan-makan dong.
Mami : bentar lagi kan bisa.
D : gimana kalo telponnya sambil makan?
Mami : aduh kamu ini, ga percaya ya kalo tante bakal mau makan
D : yah habis denger dari L tante suka maksain diri siy.
Mami : iya deh iya sekarang tante makan. Tapi kamu sering-sering telpon tante ya.
D : iya tante. Ntar saya telpon lagi, kalo ntar tante ketauan ga makan saya ga jadi dateng ya..
Mami : ya udah kalo gitu kamu kerja lagi aja.
D : saya pamit ya tante. Dagh tante.
D memutuskan hubungan telpon diiringi hembusan nafas lega.
L : lu ga dengerin mami makan!
D : mami lu kaga mau makan sambil nelpon, kalo gw paksa gw keliatan kurang ajar. Gw dah bilang bakal ngecek mami lu, jadi mungkin mami lu bakal bener-bener makan. Atau kalo lu masih cemas, sekarang hubungin bi Mirna, tanyain mami lagi ngapain sekarang.
Menuruti saran D, L cepat-cepat menelpon pembantunya. Tak berapa lama ia sudah mendapat jawaban
L : good girl, mami lagi makan. sekarang ceritain pembicaraan lengkap mami ama lu.
L mengacak-acak rambut D ketika mendapat informasi dari Mirna kalo mami nya sedang makan di ruang makan. Dengan posisi tiduran, L lalu menyimak cerita D. Semakin lama cengiran diwajah L semakin lebar ketika diakhir cerita D mengeluh tentang mami nya yang mau minta nomor nya.
D : lu kaga boleh ngasi nomor gw.
L : kok gitu? Jangan setengah-setengah dong nolong gw.
D : setengah setengah gimana, kalo mami lu nelponin gw, lalu lu bawa pacar lu yg asli kerumah, bisa ribet dong.
L : gw bawa lu aja kerumah, slese masalah.
D terpaku beberapa saat, lalu meraih semua benda yang terjangkau tangannya untuk melempari L
L : woy, lu bakal bunuh gw kalo lu lempar gw pake itu
D tersadar mendengar teriakannya karena bantal dan boneka yang ada ditempat tidur nya sudah habis dilemparkan kearah L dan sekarang D sedang memegang vas bunga yang sudah diangkat tinggi-tinggi untuk dilempar kearah L. Setelah terdiam sejenak, akhirnya D mengembalikan vas bunga itu ke tempatnya semula.
D : ok. gw calm sekarang. Sini lu.
L : ogah lu bakal menganiaya gw kalo gw dalam jangkauan lu
D : kaga. Gw perlu bicara
L memandang D seperti mengukur keseriusan D yang entah kenapa terlalu tenang. Lalu setelah memutuskan D serius, L pelan-pelan mendekati D
D : gw tau gw yg kasih ide,jadi ini salah gw. Gw salah nilai situasinya.
L : maksud lu?
D : yah gw pikir lu bakal gampang dapet pacar karena lu banyak kenalan ma cewe, masa ga satu pun cewe bisa dijadiin pacar dan layak dikenalin ke mami lu, dan gw lupa waktu lu ga banyak padahal ga gampang buat lu. Kenapa juga siy kudu terlalu kenal sifat cewe ampe mereka lama-lama jadi ngebosenin buat lu. Lu jadi homo aja gih.
L yang tadi nya bengong sekarang ketawa terbahak-bahak
D : jangan ketawa lu, minggat sono, gw mo nonton serial cengeng gw.
L : jadi?
D : terserah lu dah. Gw dengan senang hati membuat hidup lu kaga tenang.
L : lu marah?
D : kaga. Buang-buang energi. Ga usah mandang gw segitunya.
L : lu tiba-tiba seperti orang asing.
D : gw kan alien.
L : bukan. Maksud gw…
D : ya iya lah gw bukan alien…
L : bener-bener niy anak mode nya sekarang cepat berubah. Lagi ngapain lu?
L bertanya karena D sedang mencari-cari sesuatu diantara barang-barang kamar nya yang sekarang sangat berantakan
D : cari remote tv gw.
L : bukannya lu ada kuliah.
D : hah. Oh iya.
Dan D berhenti mencari-cari remote tv nya lalu seperti terhipnotis duduk bengong di pinggiran tempat tidur hingga L melambai-lambaikan tangannya didepan wajah D.
L : are u ok? Apa lu ga usah kuliah aja?
D : hwaaaa… ga bisa. Gw bolos dah banyak mata kuliah ini. gw mandi dulu. Kalo lu keluar tutup pintunya. Malu gw kalo keliatan dari luar kamar gw berantakan.
L : hahaha… ok
D sedang mengeringkan rambutnya ketika mendapati ternyata L bukannya pulang malah tertidur di tempat tidurnya. Barang-barang yang tadi masih di lantai karena dilemparkan sekarang sudah kembali ke atas tempat tidurnya walau tidak terlalu rapi. D hanya angkat bahu melihat L, lalu setelah selesai merapikan dirinya, ia langsung pergi kuliah setelah mengirim sms pada L untuk mengunci kamar dan membawanya karena ia membawa kunci cadangan.

D baru saja pulang jalan-jalan dengan teman sekampusnya ketika melihat mobil hitam yang dikenal nya parkir di depan kost nya. Dan benar saja ia menemukan L sedang tiduran sambil mengetik sesuatu di PDA nya.
D : dah lama lu?
L : lumayan.
D : kenapa ga bilang kalo lu nunggu disini?
L : lu lagi seneng-seneng, gw ga enak mo ganggu. Emang dari mana?
D : jalan ga jelas, nganterin temen shopping sekalian belanja bulanan.
L : bukannya benci shopping?
D : gw pernah bilang gitu?
L : iya
D : bukan benci siy, cuma ga suka aja. tapi tetap aja sesuatu yang harus dilakukan untuk beberapa kepentingan, sosialisasi, kebutuhan hidup, pengetahuan. Baru kalo gw hidup di hutan kaga ada namanya shopping.
L langsung tertawa terbahak-bahak dan segera bangkit dari tidur nya.
D : ok. Bagaimana hasil perburuan lu?
L : ga maju, juga ga mundur. Tipe cewe sibuk. Gw tau dia sedang maen old game, mo ngebuat gw ngejer-ngejer dia dulu. Tapi gw ga ada waktu. gw dah bosen maen game ini.
D : ew ga cukup berharga buat dikejer?
L : tidak. Membosankan.
D : udah seminggu loh. Mami lu makin sering nelpon gw.
L : I know, I’m sorry. Ga nyangka mami beneran suka ma lu.
D hanya mengangkat bahu lalu beranjak menuju kamar mandi dan tak lama keluar dengan kostum baby doll nya. Membongkar belanjaannya, menatanya ditempatnya lalu setelah rapi ia mengambil komik di rak buku nya lalu langsung tenggelam dalam bacaannya. Sementara L hanya memperhatikan D melakukan semua kegiatannya.
L : ada pilem baru di movie.
Jawaban D hanya berupa gumaman.
L : will smith?
D : nomat aja besok.
L : rame loh ntar.
D : udah cape.
L : ah emang lu lagi ga pengen pasti kaga bakalan mau.
Lagi-lagi D hanya menggumam, ia terlalu asyik dengan bacaannya.
L : D…
Belum slese L menyelesaikan ucapannya D menyelanya dengan nada datar
D : lu ga baru kenal gw kan, jadi jangan sampe gw ngusir lu.
L : iya, iya lu ga mau diganggu kalo lagi baca. Sorry, ya udah gw pinjem laptop ya.
Jawaban D hanya berupa gumaman. Dan mereka sibuk dengan keasyikan mereka sendiri hingga 3 jam kemudian D menyelesaikan komik yang dibacanya.
D : loh lu belum pulang ya.
L : lu tu kalo dah asik lupa ama semuanya deh.
D : udah jam ½ 12 loh
L : oh ya? Ew ga sadar gw. Eh D sini, say hello to my friends. Dari tadi dia nanya sapa lu.
D : Temen lu? Emang lu ceritain gw gitu?
L : kaga, cuma dia ribut nanya sapa cewe yang ada dibelakang gw.
D: hah. Lu pake webcam ya?
L : hu uh. Sayang kaga ada headset disini.
D : lu tu ya…
L : yak stop. Tunda dulu ngomelnya. Gw pamit dulu ma temen gw.
Begitu L mematikan laptopnya, D sudah kehilangan niat untuk ngomel.
L : udah gitu aja? ga jadi ngomelnya?
D : ga penting. Dah malam niy, dicariin mami lu
L : ga, dah gw telpon tadi. Jadi..
L memandangi D dengan pandangan mengukur
D : apa?
L : kapan lu siap ketemu mami?
D : hah
L : mami nanya kapan si dede ini slese dinas luar kotanya.
D : lalu lu jawab apa?
L : tergantung kantor si dede ini. Kalo dah ga diperluin, si dede ini baru disuruh balik.
D : ok. Jawab begitu seterusnya
L : jadi gw asumsiin lu belum siap?
D hanya angkat bahu, lalu mendorong L keluar kamarnya.

D: bukannya gw mo nyaingin mami lu ngebawelin lu, juga bukan gw mo tau urusan lu, cuma karena posisi gw sebagai korban yang ngebuat gw bertanya.
L sedang asyik dengan laptop D sedangkan D yang ketika L datang sibuk dengan komiknya, tiba-tiba seperti baru saja tersadar dari trans. D menyadari ada yang aneh akhir-akhir ini.
L : okeeyy…lu mo nanya apa?
L sebenarnya sudah tertarik dari awal D mulai berbicara, karena ga biasa-biasanya D berhenti membaca ditengah-tengah komiknya.
D : lu ngadep sini kenapa.
L : ok bos. Jadi bos mo nanya apa?
D : gw bakal nyuekin sindiran lu kali ini karena gw mo jawaban jelas.
L : what?
D : kenapa ya gw ngerasa lu jadi lebih sering kesini?
L : masa? Itu perasaan lu aja kali.
D : anggap aja gitu. tapi sekarang lu disini ngapain coba? Bukannya lu punya sesuatu hal yang sangat penting buat lu kerjain?
L : oh ya? Apa?
D : seperti… nyari calon istri?
L : oh itu. Sedang gw lakuin.
D : masa? Bagaimana caranya kalo sekarang aja lu malah main kesini.
L : emang ga boleh?
D : boleh aja, tapi lu kesini juga cuma ng-inet doang, kaga ada cewe gebet-able disini
L : yah sapa tau temen lu ada yang maen kesini lalu gw kecantol.
Mendengar jawaban L yang sama sekali tak serius D berteriak kesal, sementara L menahan tawanya melihat tingkah laku D yang begitu lucu dan berusaha menyembunyikan tawanya karena D akan tambah kesal jika tau L menertawakannya
D : denger ya, mami lu udah kek obat nelponin gw setiap harinya. Gw emang bilang terserah lu tempo hari. Gw mau karena buat ngebantu lu ngulur waktu buat cari calon, jadi setidaknya ada usaha lu dong buat nyari.
Mendengar D yang terdengar sangat serius, L akhirnya menghentikan usahanya menggoda D.
L : gw tau D, gw juga sering denger mami telpon lu. Maaf untuk itu. Gw cuma sedang istirahat, ok? Gw bosan dengan trial dating ini. Jadi setidaknya boleh kan gw istirahat sejenak
D : ok. Take your time.
L : Jadi…. karena lu dah nyinggung soal ini lagi, gw cuma mo bilang, kalo lu udah siap ketemu mami, mungkin mami ga bakal terlalu sering ganggu lu lagi, beban gw juga ga terlalu berat lagi.
Pemberitahuan L mengandung pertanyaan yang tak terucap tentang kapan D siap untuk bertemu mami nya. Ini bukan pertama kalinya di bahas karena baik secara langsung bertanya maupun kalimat-kalimat lain secara tersirat, L masih menunggu kesiapan D untuk itu karena disetiap pokok bahasan itu diangkat selalu berakhir dengan makan es krim, yang artinya D sedang menyembunyikan diri dari topik itu.
D : ok. Gw tau gw kan akan pernah siap. Dan gw juga tau, lu tau gw selalu melarikan diri setiap lu ngebahas ini. Jadi ayo kita lakukan malam ini.
L terpana beberapa saat mendengar jawaban D.
L : mode ngawur lu ga sedang on kan?
D : mungkin. Gw masih ga ngerti maksud lu dengan mode ngawur.
L : lu serius D?
D : lu mo test gw?
Seperti merasakan niat D, tiba-tiba hp-nya berbunyi, secara serentak kedua nya menatap hp D yang berada di lemari laci didekat kepala tempat tidur. D meraihnya dan melihat nama mami terpampang dilayar hp nya.
D : siang tante…
Mami : siang de. Lagi ngapain nih?
D : coba tante tebak
Mami : apa ya? Makan siang?
D : D belum makan siang tante, tante udah?
Mami : baru aja slese, makanya nelpon kamu mo ngingetin.
D : bentar lagi setelah slese packing.
Mami : packing?
D : iya, dede masih boleh ketemu tante ga?
Mami : kamu udah boleh balik kesini ya? Kapan?
D : iya tante. Dede dapat kabar barusan. Jadi setelah makan siang dede mo berangkat pulang tante.
Mami : jadi kapan kamu mau maen ke rumah?
D : kalo malam ini keberatan ga tante?
Mami : ga lah, tante bakal senang banget
D : bener ga apa apa tante? Dede dah ga sabar mo ketemu tante.
Mami : ya ga apa apa lah de, kan tante emang pengen kamu kesini. Kebetukan hari ini tante juga mo belanja bulanan, jadi sekalian bisa beli persiapan makan malam ntar.
D : loh tante ga usah repot-repot.
Mami : ngga ah. Kan sekalian.
D : kalo gitu tante perlu bantuan dede? Kebetulan habis lapor ke kantor, dede ga harus langsung kerja.
Mami : jangan, jangan. Kamu istirahat aja dulu. Kan cape habis perjalanan lama. ntar malam biar L aja jemput kamu. Eh kamu udah ngasi tau L?
D : belum tante, rencananya habis nelpon tante.
Mami : oh ya udah kamu telpon L, kalo dah nyampe langsung istirahat, ati-ati di jalan.
D : iya tante. Tante juga ati-ati pergi belanjanya.
Mami : iya. tante mo siap-siap pergi belanja dulu ya.
D : dagh tante..
D memutuskan sambungan telponnya lalu menatap L dengan pandangan yang berkata “nah, kan gw dah bilang gw serius, jadi lu mo apa sekarang”. Sementara L menatapnya dengn pandangan takjub.
L : apapun yang terjadi ama lu sekarang, you must keep it until you have met my mom.
D : ga susah. Just don’t ask anything, go with the flow.
L : maksud lu?
D : you’ll see. Pokoknya jangan banyak tanya.
L : you’re the boss.
Sambil berkata begitu L mengangkat bahu nya walo dalam hati ia bertanya-tanya sejak kapan D punya sifat bossy, sok-sok ngatur.
D : bagus.
L : jam berapa lu mau pergi?
D : jam 7. Lu yang bilang ke mami.
L : ok. Jam 7 kalo gitu. Gw balik ke kantor dulu.
D hanya mengangguk ketika L berpamitan.

Jam 6 sore D sudah duduk ditepi tempat tidur dengan mengenakan baju kaus putih dan celana soft jeans biru, membaca komik yang baru saja dibelinya ketika L masuk kekamarnya yang terbuka.
D : gw sedang ngosongin kepala gw jadi sebaiknya lu diem.
L menatap D dengan heran dan menuruti perintah D dengan menyibukkan diri dengan laptop D, hingga 40 menit kemudian D berdiri dengan tiba-tiba lalu masuk ke kamar mandi. L yang terkejut karena D yang tiba-tiba bergerak hanya bisa memandang pintu kamar mandi yang sudah tertutup kembali dengan D didalamnya dan berpikir betapa aneh cara D untuk mengosongkan pikiran dan bertanya-tanya kenapa D harus mengosongkan pikiran, bukannya itu berarti dia bakal ngawur waktu ketemu mami nya. Lima menit kemudian, D keluar dar kamar mandi. Sekarang ia mengenakan cardigan biru muda diatas kaus putihnya.
D : ka, ini dede.
L : hah.
D mengulang kalimat yang baru di ucapkannya dengan menunjuk dirinya sendiri. Lalu sekarang ia menunjuk L
D : ini kaka.
L : apaan sih.
D : iya dede ini calonnya kaka.
D mengucapkan kalimatnya sambil terus menunjuk diri nya dan L secara bergantian dan menatap L dengan penuh arti
L : ok, ok gw paham.
D : ga ada lu-gw ka..
L : hah.
Beberapa saat L masih bingung hingga akhirnya menyadari apa maksud D, tapi ia jadi terkejut dengan nada suara D yang begitu lembut, D ga pernah berkata dengan lembut padanya. Dan sekarang D tersenyum dengan lembut juga ke arahnya. Tak tahu harus berbuat apa, L hanya bisa menggiring D keluar kamar menuju mobilnya.

D langsung masuk kekamar mandi ketika akhirnya ia diantar L kembali ke kost-nya. Sementara L langsung tiduran di tempat tidur D. Tak berapa lama D keluar kamar mandi dengan memakai baby doll, kostum tidurnya, langsung mengusir L dari tempat tidurnya.
L : males pulang, de. Kalo mami nanya, bilang ka mo lanjutin lembur ya.
D : kenapa?
L : males di bawelin mami, De
D : D bukan De. Dibawelin gimana? Kan dah ketemu ini.
L : hah. D? De?
D : spell panggilan gw D in english not De in Indonesian
L : owh. Sandiwara dede dan kaka udah slese ya.
D : di depan mami lu kan ga mungkin pake lu-gw. Apa maksud lu dibawelin? Kan dah keliatan lu serius ada calon.
L : mungkin lu ga merhatiin, mami bener-bener suka ma lu.
D : Lalu kenapa kalo gitu.
L : ya pasti kalo gw pulang bakal langsung diintrograsi lebih dalam lagi. Gw ga siap. Gw butuh persiapan.
D : atur aja deh. Yang penting misi ketemu mami slese.
L : yeah dan gw bisa nyatain misi kali ini sukses!
D : Es krim!
L : siap! Sekarang?
D : ng… besok aja d. Kenyang banget sekarang. Lu mo kemana kalo ga pulang?
L : Can I stay here?
D : ga bisa!
L : tapi kita kudu bahas soal “dede” ini dulu.
D : ya udah. Mo lu gimana?
L : lu kan yang jadi dede. Jadi ada ide?
D : Tadi gw udah ngejawab soal keluarga dede ini dengan keadaan keluarga gw.
L : good improv. Ehm, jadi gimana kalo supaya ga susah, lu pake latar belakang lu semua ajah.
D : hm.. ok. Jadi ga perlu bohong total ma mami. Tapi.. gw kan ga kerja kek yang lu bilang ke mami lu.
L : yah gw dah terlanjur bilang lu kerja. Mungkin itu doang yang kudu lu inget kalo si dede ini dah kerja.
D : kuliah sambil kerja.
L : ok. Kita buat gitu aja.
D : deal. Sekarang lu bisa pulang. Gw mo nonton serial gw.
L : Tega amat lu ngusir gw malam-malam gini
D : tapi lu kan besok kerja.
L : bolos.
D : terserah lu d. tapi kalo gitu es krim nya sekarang aja.
Jam 5 pagi D sudah jatuh tertidur, melihat D tertidur, L bergerak mendekatinya untuk menyelimutinya. Untuk beberapa saat memandangi wajah D yang kelihatan damai dan berbisik pelan.
L : kalo dulu gw nyombong dengan bilang gw selalu bisa ngerti cewe and I know how to handle them, sekarang gw mo ngeralatnya. Ada 2 orang cewe sekarang yang ga bisa gw ngerti. Mami, karena walo gw tau apa yang mami lakuin buat kebaikan gw, terkadang gw ngerasa cuma dilakuin buat ngebuat mami sendiri senang. Dan yang kedua itu lu D. akhir-akhir ini gw ga lagi ngerasa kenal lu. Apa yang lu lakuin jadi sering ngebuat gw bingung harus bersikap gimana. Lu yang dulu bisa ditebak, gw hafal tingkah laku lu. Tapi sekarang gw baru sadar, kalo lu nonton serial cengeng yang payah itu, lu malah tertawa terbahak-bajak. Kalo lu baca komik yang gw sendiri ga tau dimana bagusnya, wajah lu bisa berekspresi dengan ratusan mimik yang ga pernah gw liat. Dan brosing yang kadang-kadang terasa menjemukan malah membuat lu antusias. Semua yang lu lakuin jadi terlihat seru. Seakan-akan lu hidup didunia yang ga pernah gw tau. Dan bersama lu ga pernah membosankan. Kalo gw harus dapet calon yang ga bakal ngebuat bosen gw, mungkin gw harusnya nyari yang kek lu. Tapi apa bisa gw nemu calon seperti lu? Gimana kalo gw minta lu jadi calon gw beneran?hahaha.. baru gw pikir aja gw dah denger suara lu yang langsung nolak di kepala gw. Gw ga masuk itungan lu siy ya. Gw jadi bertanya-tanya cowo seperti apa yang bisa bikin lu keluar dari dunia yang lu ciptain itu D?
L menghela nafas panjang, lalu berdiri setelah memastikan selimut D menyelimutinya dengan nyaman, mematikan tv, menaikkan suhu kamar agar tak terlalu dingin lalu mematikan lampu dan keluar kamar sambil menutup pintu.

D merasa akhir-akhir ini apapun yang dilakukannya tak lagi terasa menyenangkan, ada sesuatu yang terasa hilang. Ia sedang duduk di atas tempat tidurnya bersandar pada kepala tempat tidur memandang satu titik di rak bukunya yg entah kenapa dalam setengah jam ini terasa sangat menarik daripada melakukan hal lain. Ketika L datang, D masih diposisi yang sama, bahkan tak bergerak sedikit pun yang memperlihatkan bahwa dia menyadari kedatangan L. L yang heran karena disambut dengan keheningan, memanggil-manggil D, mendekatinya dan melambaikan tangannya didepan wajah D karena tak mendapatkan reaksi apapun, lalu akhirnya ia menepuk pelan pipi D.
L : lu lagi trans?
D menggumam ga jelas, mengalihkan pandangan kewajah L setelah mengedip cepat karena tepukan di pipi nya.
L : lu kenapa?
D : Ga pa pa.
L : lu lagi-lagi berkelakuan aneh
D : masa? Biasa aja kok. Mati gaya aja mungkin.
L : hah.
L harus mengurungkan niatnya untuk bertanya kenapa seorang D yang ga pernah kehabisan ide menghabis kan waktunya tiba-tiba berkata mati gaya karena D langsung menyelanya dengan pertanyaan lain.
D : ga nge-date?
L : baru pulang.
D : cepet amat. Jangan bilang dah bosan lagi.
L : nyaris. Sebenernya gw ga habis pikir ma otak gw
D : kenapa?
L : jadi lemot. Gw ga bisa mengenali sifat cewe-cewe itu secepat dulu.
D : loh bagus dunk.
L : bagus gimana?
D : cewe-cewe itu lebih pintar sekarang karena lu baru menyadarinya setelah lama ama mereka.
L : bukan! Mereka masih gampang ditebak. Cuma gw nya yang suka salah memperlakukan mereka, lalu mereka jadi ngambek. Gw kudu ngerayu mereka lagi supaya ga ngambek.
D : wah itu kemajuan buat lu, jadi lu ada kerjaan, tantangan ngerayu mereka jadi ga bakal lu ngerasa bosan.
L : kemajuan gimana? Tetep aja pada akhirnya gw bakal bosan, kan gw dah tau endingnya. Push the right button, they won’t be mad at me again.
D : lu bilang tadi yang sekarang lagi lu pdkt-in belum ngebuat bosan. Dari cerita lu kemaren-kemaren keknya dia bakal cocok ma mami, so can you just stay a little longer? Tembak itu cewe, keep fall in love with her, kenalin ke mami, buat diri lu sendiri ga merasa bosan kalo seandainya dia ngebuat lu bosan. Ada banyak cara untuk itu.
L : lu berubah ya. Lu jadi praktis gitu.
D : maksud lu?
L : D yang gw kenal ga sedingin ini. Lu ngusulin ide itu apa lu mikir gimana perasaan gw? Perasaan cewe itu? kalo bukan gw or cewe itu, setidaknya lu mandang mami deh.
D : hey, gw cuma berusaha bersikap optimis L. Kita perlu itu kalo ngga, kita stuck Bohong mulu ma mami lu.
L : dengerin gw D. Selama ini gw emang banyak pdkt ama cewe, gw juga tau kadang gw bikin mereka patah hati, tapi ga cukup sakit sampe bikin mereka membenci gw karena begitu gw tau mereka ga cocok ma gw, gw langsung ngejauh, ga ngasi harapan.
D : iya gw tau. Lu cuma mo kenal mereka aja.
L : Jadi, anggap aja ide itu gw jalanin, padahal gw ga yakin ama cewe itu, mungkin gw bisa seperti yang lu bilang ngebuat diri gw sendiri ga ngerasa bosan, tapi brarti lu ngeremehin kaum lu sendiri kalo lu berasumsi cewe itu ga akan merasa gw ga serius ama dia. orang yang bosan gampang dikenali D, sekeras apapun gw berusaha, pasti suatu saat gw akan ketauan karena gw akan bisa berpura-pura terus-menerus 24 jam. Dan kalo udah gitu, lu pikir mami ga akan tau? Mami itu orang yang ngelahirin gw, mami pasti menyadarinya dari tingkah laku gw. Mami bakal sedih, bukan hanya karena gw ngebohongi mami, tapi juga karena mami akan tahu, gw sendiri demi ga ingin di jodohin malah maksain jalan ama cewe yang ga gw suka. Lalu mami bakal nyalahin diri sendiri. Kita sudah berjalan sejauh ini D dan kita ga bisa mundur lagi. kalo tau bakal jadi begini, gw ga bakal ngelakuin ini. Jadi please… bertahan sedikit lagi. kerusakannya akan parah kalo kita nyerah sekarang. Mami ga menyadari kalo kita bukan pasangan sebenernya karena gw ga bosan maen ama lu dan mami ga menyadari hubungan kita jenis yang bagaimana. Yang mami tau, gw happy ama lu. Jadi sampe gw nemu calon gw….
D : ok. Ok gw paham. Sorry. Gw bukan ga sabar, gw seneng kok kenal mami lu, gw sayang ma mami lu, karena itu gw sedih ngebohongin mami lu.
L terdengar mendengar jawaban D, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ketika ia berbicara kembali, suaranya teredam dalam telapak tangannya tapi tak cukup untuk menutupi getaran dalam suaranya.
L : gw juga sedih D, ngerasa bersalah banget.
D : gw tau, sorry gw ngemuntahin rasa frustasi gw ke lu, padahal lu sendiri juga tertekan.
Sambil berkata begitu D menarik kedua tangan L yang menutupi wajahnya dan menggenggam keduanya dalam tangannya sendiri.
D : hey, jangan bilang lu nangis ya, gw lagi kehabisan stock coklat gw.
L mengangkat wajahnya yang masih menunduk menatap tangannya yang dalam genggaman D. Lalu tiba-tiba menarik keduanya dan mulai menggelitik pinggang D.
L : emangnya gw tipe cowo cengeng di pilem cengeng lu itu?
D : eh itu bukan cengeng namanya. Itu romantis. Brenti gelitikin gw!
L : sejak kapan lu kenal romantis?
Karena L tak berhenti menggelitiknya, D balas menggelitik L. mereka saling menggelitik hingga tiba-tiba L berhenti menggelitik D ketika posisi dadanya menghimpit pangkuan D dan tak bergerak lagi walau D masih menggelitiknya.
D : woy berat niy.
L : makasiy ya D.
D : buat?
L : mau bantu gw, bersabar ama gw.
D : sapa bilang gw mau?
L : lalu?
D : gw mau bantu karena mami lu kok. Gw mah ga peduli ama lu.
L : dosa gw pasti banyak banget ya.
D : it’s a white lie I think.
L : I hope so, but it’s still a lie.
Dengan posisi kepala L yang berada dipangkuan D, menit-menit berikutnya mereka habis kan dengan D yang mendengar D menceritakan masa kecilnya. Lalu entah sejak kapan, L malah tertidur dipangkuan D. melihat itu D yang baru tersadar suara L tak lagi terdengar terdiam sesaat. Ketika mendengar nafas L menjadi teratur, ia menggeser kepala L dari pangkuannya ke bantal disebelahnya. Dan berhenti untuk berbisik.
D : gw tau apa yang menghilang dari gw akhir-akhir ini. Yang ngebuat gw jadi mati gaya karenanya. Itu hati gw L. Apa yang akan lu lakuin kalo gw bilang gw sayang lu, L?
D terdiam sejenak, untuk memastikan L masih tertidur.
D : sepertinya ga mungkin terpikir kan oleh lu ya. Karena kalo begitu, sudah dari dulu lu bakal bosan ma gw walau saat itu gw mungkin ga akan peduli. Tapi L, kalo sekarang, gw ga pengen itu terjadi karena gw udah terbiasa dengan lu di sekitar gw.
Bangkit dari duduknya, D mengambil selimut di kaki tempat tidur, menyelimuti L, lalu menelpon mami L untuk memberitahunya L tidak akan pulang malam ini. Setelah itu dengan pelan-pelan ia mengambil bantal lain, selimut baru dilemari nya dan keluar kamar untuk mengetuk pintu disebelah kamarnya. Pintu terbuka dan Vie, tetangga kamarnya yang melihat D membawa bantal dan selimut langsung menyuruhnya masuk. Akhir-akhir ini D emang jadi sering mengungsi jika L tertidur di kamar nya.





My Colour

22 03 2008

Yellow : temen biasa
Green : temen deket yg baek
Red : temen yang dibenci
White : sahabat
Pink : orang yg dicintai
Ungu : org yg disayangi
Blue : org yang istimewa
Brown : sodara
Pilih warna apa untukku?

SENT TO ALL

Dani : Ungu!
Mira : kayaknya brown deh
Dini : Smua boleh de. Tergantung mood ( Jangan pink ding ntr dikira lesebi)
Tata : Mawna sie PINK ma UNGU. Eh tp takudna cewe tar dipikir lesbong alias kelainan sexual :-D mm..ungu ma brown blh kan? soale qta kan anak kembar k :-D
Moniq : White,blue,green n brown sist!
Inoy : Blue.
Ka : Ungu is de bes.
Tembem : ha? Apa itu? boleh pilih 2? Klo boleh aku pilih coklat sama ungu.
Tugillz : blue dg sedikit Red (yup. Ungu)
Ommen : rainbow

Andiee : exclude red and brown





petualangan teletubbies

22 03 2008

Habis berpetualang tapi berasa kek mimpi aja, kecuali bagian badan yang berasa pegel semua. Dari yang hampir ketinggalan pesawat (check in hampir ditutup pas saya nyampe dibandara) berlanjut ke bandara tujuan cuma buat ngedapatin saya kudu nunggu lagi untuk dijemput (seringkali saya merasa lebih banyak nunggu orang, kapan dunk saya ditunggu orang, tapi.. saya juga ga suka siy ngebuat orang nunggu. Hhh..) lalu gerak lagi ke arah terminal bus, dan lagi2 nunggu (bus nya nunggu banyak orang dulu baru mau berangkat dan itu memakan waktu 3 ½ jam!). jam ½ 3 pagi akhirnya nyampe rumah. Pintu dibukain ama kk saya yang berteriak histeris (saya juga teriak siy), berpelukan (serasa teletubbies secara kami sama2 gendud), dan dengan berisik masuk kerumah (saya mulai bersin2) Di dalam saya excited banget, karena rumah direnovasi. Letak kamar saya dan kk saya dulu berubah(sekarang jd kamar kk doank ding) dan ruangan pertama yg direnovasi yg saya liat ya kamar itu(well, kamar saya belum slese dipermak siy jadi numpang dulu…). Barang bawaan yg saya geletakin di lantai kamar langsung dibongkar kk, sementara saya ngeliatin barang bawaannya dari negri seberang dan mata saya menangkap kilauan di atas meja ada benda kota bewarna putih (halah cuma vaio doank). Dan langsung mangku dengan semangat si putih untuk di acak2 dan mulut kami tetap berceloteh dengan suara stereo. Tiba2 ada sesosok tubuh berdiri diambang pintu kamar yang ternyata emak teletubbies (bukan! Itu mama saya!) yang berkata dengan tegas “kalian pikir ini jam berapa?emangnya ga bisa besok pagi?” dengan style biasa (nyengir dan sok lugu) saya jawab “ini kan dah pagi ma”. Dan seperti biasa mama cuma menghela nafas “pelanin suara kalian. Ganggu orang tidur” lalu beranjak pergi dan saya cepet2 berdiri buat sungkem (anu, emang bukan anak yg tau diri siy, maap ma..). habis itu balik lagi ke posisi semula, tapi kali ini suara diturunin (asli bisik2 ini ngomong ma kk). Ga berasa udah subuh, lalu pelan2 hari menjadi terang. Lagi2 mama bediri diambang pintu dengan kostum kepasar nya, “mau dimasakin apa?” (kenapa saya bisa benci mama yah?). saya ngeliat ke arah kk, lalu kk cuma ngejawab “ikut ke pasar aja yuk” dan saya nganggukin kepala (hey saya kan benci bau ikan di pasar!). ga lama anak2 teletubbies dan emaknya berkeliaran di pasar, ketemu ma kenalan2 lalu berbasa basi (blablablabla) dan pada akhirnya anak2 memutuskan untuk pulang terlebih dahulu karena… ya gitu deh… .Kualat! (pulang duluan ga bilang2 mama) kami lupa kunci rumah dipegang mama. Jadilah 2 teletubbies bengong didepan rumah (“bangunin adek!”. “kau pikir adek bakal bangun? Orang dia tidur kek mayat gitu” “duh dah kebelet niy”. “kita lewat jendela aja, tadi jendela kamar keknya dibuka” “ga cukup tauk!”. “cukup!”). akhirnya jadi juga lewat jendela setelah memutuskan siapa yang lebih langsing diantara kami. Saya bukain pintu samping buat kk, baru d ngacir ke kamar mandi. Pas keluar2 kamar mandi, nemu lagi emak teletubbies di depan pintu depan rumah berkacak pinggang “kalian ini dicari2, tau nya dah pulang!” sekali lagi saya menjawab dg style biasa “abis kebelet ma”. Akhirnya dengan respon biasa mama lagi, beliau cuma bilang “ itu angkat belanjaan kedalam”. Untung ga ditanya gimana cara kami masuk kerumah. Hohoho…
Akhirnya kantuk menyerang, kk yg dari semalam juga ga tidur karena nungguin adek2nya datang, ikutan ngantuk dan dg perasaan ga enak pamit ke mama, mo tidur dulu.
Jam 12 teng saya kebangun, amnesia sesaat berada dimana saya. Lalu mengendus2 ke dapur, ternyata makan siang udah siap, tapi karena belum laper, saya keliling rumah dan mendengar suara merdu dari samping rumah. “kok kucingnya ada diluar?” “kucingnya sakit” dan muka saya langsung merengut. Tapi mengabaikan cat detected dari hidung saya (bersin2 itu tuw…) dari sejak awal mendekati rumah, saya malah ngedeketin tempat kucing2 itu dan her I go again… sneezing(ga lama jadi sakit). Dan kejadian seperti mimpipun berlangsung hingga hari minggu. Hari kudu jalan lagi ke kota ujung barat.
Jam ½ 8 berangkat dari rumah, nyampe kota di ujung barat jam 1 siang keesokan harinya. Bokong saya terasa pegel kelamaan duduk di bus (“besok kalo kita mudik lagi dek, kita naek pesawat aja. ga mau lagi naek bus” yeah sizta, coba ngomong dulu ma our parents kalo berani). Nyampe dikota ujung barat, saya ngajakin kk nyari dvd (“ga liat apa orang cape?”). ga jadi pergi dan akhirnya karena sebel saya malah tidur. Kebangun jam 5 sore, muka saya masih dengan tampang busuknya duduk bengong di depan tv, ngeliat saya masih sebel. kk saya akhirnya ngajakin nonton dan sejam kemudian kami siap berangkat dengan membawa sepupu saya yang masih kelas 5 SD. Nyampe di tempat nonton kami bengong, pilem yg mo ditonton sold out. Akhirnya second best choice, kami memutuskan nonton pilem barat (“ngajakin temen ya kak” “ya udah, dibeliin tiketnya sekalian”). Selese antri tiket, ada waktu setengah jam, dan kami pun makan (tuh kan, kok bisa saya benci kk saya ya? *doyong diri sendiri* ). Kurang 5 menit pilemnya dimulai temen saya datang, kami berpelukan, kenalin ke kk, lalu berempat jalan ke teaternya (“ga beli popcorn?” haduh saya sayang kk saya kok). Pilemnya ternyata dewasa banget, saya bingung nutupin muka supaya ga liat belum lagi si sepupu yang dibawah umur (jangan bilang ke ibu ya, dek).
Jam ½ 10 pilemnya slese dan kami pun pulang, dianter temen ampe rumah, dan dengan sedih karena cuma bisa ketemu bentar doang kami berpelukan lagi lalu dadagh say gudbai. Dan besoknya jam 2 jalan lagi ke bandara kota ujung barat dengan dianter kk (“kenapa harus dianter siy?emang ga berani?”. “ pengen lama aja ma kk”). Jam ½ 4 menemukan diri sendiri lagi2 menunggu. Memilih buat ceting daripada bengong eh tiba2 ngerasa sedih. Akhirnya jadi bikin show di lounge (cuek). Jam 4 lewat boarding juga akhirnya dan setelah 1 ½ jam terbang, nyampe juga di tempat semula. Dan petualangan teletubbies pun berakhir.





sepenggal sms

22 03 2008

01.35 mungkin ga siy org bs brubah dg drastis? Klo bisa sbrapa banyak org yg ngalamin? Apa yang ngbuat mrk brubah drastis? Sbrapa besar perubahan yg bs tjd ama orang yg keras kepala? Atau mungkin, apa orang keras kepala bs brubah?

10:17 brubah jadi kodok :p Jgn berharap org itu akan brubah ato km dpt ngrubah org itu. dg ga berharap kmu akana memahami org itu. geto loh de. Awas kmu ganggu aq lage mlm2!

10.20 I’m talkin bout my self. Ada org2 yg ngarepin sy brubah. Jd ksimpulannya mrk yg harus ngerti sy atau sy yg hrs berubah?

10.23 beuh, klo udah ada di dna kek apa ngrubahnya?buat apa? Itu pertanyaannya. Pake topeng aja, itu gunanya topeng :D ga salah kok. Kan buat penampilan. Klo ga sreg ya ganti.

10.28 buat mereka senang. Tp knp juga saya mesti susah buat nyenengin orang? Sy bukan masochist kok. Hahaha..monologue d. syg d ma kmu men. Eh bkl ada gangguin kmu mlm2. entah kapan..